Pendahuluan terbuka. Apalagi dengan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN

 

 

 

Pendahuluan

 

Latar Belakang

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Indonesia
telah memuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 cita-cita pendidikan
bangsanya, yaitu ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena dengan
itu, harkat dan martabat suatu bangsa bisa terwujud. Ini menjelaskan bahwa
Indonesia sangat memerhatikan mutu dari kualitas pendidikan bangsanya.

Namun
yang sedang kita rasakan saat ini mutu Indonesia dalam bidang pendidikan masih
tertinggal. Hasil ini didapatkan berdasarkan data dari UNESCO (2014). Indeks
Pengembangan Manusia (Human Development Index) di Indonesia berada pada
peringkat ke108(2013) ke-113(2014) diantara 
174 negara lainnya. Indeks ini menujukkan komposisi dari pencapaian
pendidikan, kesehatan, dan pendapatan per kepala di Indonesia menurun dari tahun-
tahun sebelumnya. Dari data  tersebut
membuktikan bahwa kualitas pendidikan masih sangat memprihatinkan.

Pada abad
ke-21 ini gelombang globalisasi terasa sangat kuat dan terbuka. Apalagi dengan
dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mutu dari sumber daya manusianya
sangat diperhatikan. Karena SDM yang dibutuhkan haruslah berkompeten, terdidik
dan terlatih. Masyarakat sadar betul bahwa pendidikan adalah modal utama untuk
menghasilkan SDM yang kompeten dan mampu bersaing di era globalisai.

Maka dari itu
dirasa penting agar Sistem Pendidikan Nasional berjalan terarah dan jelas
sesuai Undang-Undang No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Di dalam
masyarakat dewasa ini banyak muncul kritikan baik dari kalangan praktisi
pendidikan maupun pengamat pendidikan saja mengenai sistem pendidikan nasional.
Sekarang ini dunia pendidikan menimbulkan kesenjangan-kesenjangan, pertikaian
dan persemaian, mementingkan diri dan kelompok. Jadi, sekiranya kami perlu
membahas kualitas pendidikan dan solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Tujuan

1.     
Menjelaskan pengertian kualitas pendidikan.

2.     
Mendeskripsikan standar pendidikan yang berkualitas.

3.     
Mendeskriipsikan kualitas pendidikan di Indonesia.

4.     
Memaparkan penyebab rendahnya kualitas pendidikan.

5.     
Memberikan solusi untuk
meningkatkan kualitas pendidikan

Rumusan Masalah

1.     
Apa pengertian kualitas pendidikan?

2.      Bagaimana
standar pendidikan yang berkualitas?

3.      Bagaimana
kualitas pendidikan di Indonesia?

4.      Apa
penyebab rendahnya kualitas pendidikan?

5.      Bagaimana
upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan?

Manfaat

1.     
Bagi Pemerintah

Bisa dijadikan referensi untuk upaya meningkatkan kualitas pendidikan
di Indonesia.

2.     
Bagi Guru

Bisa dijadikan acuan mengajar pada peserta didik agar di melahirkan
generasi kaya akan prestasi.

3.     
Bagi Mahasiswa

Bisa dijadikan bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan
prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya.

 

Pembahasan

Pengertian Kualitas Pendidikan

Arti dasar
dari kualitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah derajat atau taraf,
tingkat baik dan buruknya sesuatu. Menurut Guets dan Davis dalam bukunya
Tjiptono menjelaskan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memnuhi
atau melebihi harapan.

Sementara
itu kata dasar pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan depan
‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau
perbuatan mendidik. Secara etimologi pendidikan berarti suatu proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalalm usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Ki Hajar Dewantara
pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu,
agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai
keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Dalam
UU No.20 tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Di
dalam konteks pendidikan, kualitas atau mutu dalam hal ini mengacu pada proses
pendidikan dan hasil pendidikan. Dari konteks “proses” pendidikan melibatkan
berbagai input seperti bahan ajar, metodologi, sarana sekolah, dukungan
administrasi dan sarana prasarana serta sumber daya lainnya yang menciptakan
suasana yang kondusif. Sedangkan dari konteks “hasil” pendidikan lebih mengarah
pada pencapaian prestasi dari setiap proses pendidikan berupa hasil tes
kemampuan akademis, misalnya UN dan UASBN. Dapat pula prestasi dibidang lain
seperti dalam cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu.

Jadi
pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang
berakhlak mulia dan memiliki kemampuan di bidang akademik maupun non-akademik,
sehingga dapat menjadi pelopor dalam pembaharuan dan perubahan dengan cara
memberdayakan sumber-sumber pendidikan secara optimal melalui pembelajaran yang
baik dan kondusif. Serta mampu menjawab berbagai tantangan dan permsalahan yang
dihadapinya, baik di masa sekarang atau masa yang akang dating.

Disimpulkan
bahwa kualitas atau mutu pendidikan adalah kemampuan lembaga dan system
pendidikan dalam memberdayakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan
kualitas yang sesuai dengan harapan atau tujuan pendidikan melaui proses
pendidikan yang efektif.

Standar Pendidikan Berkualitas

Dalam rangka mewujudkan suatu
pendidikan yang berkualitas pemerintah telah mengatur dalam Peraturan
Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar
nasional pendidikan tersebut ada 8, yaitu:

a.      
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan bahan ajar,
tingkat kompetensi belajar dan mengajar.

b.     
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang
berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada suatu instansi pendidikan untuk
mencapai standar kompetensi lulusan.

c.      
Standar pendidik dan tenaga kependidikan.

d.     
Standar sarana dan prasarana.

e.      
Standar pengelolaan adalh standar nasional pendidikan
yang  berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan,

f.      
Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur
komponen dan besarnya biaya operasional pendidikan.

g.     
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional
yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur,dan instrument penilaian hasil
belajar peserta didik.

Standar nasional pendidikan ini berfungsi sebagai
dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka
mewujudkan pendidikan nasional yang 
bermutu.

Berdasarkan skala prioritas ada 3 standar kualitas
pendidikan, yaitu guru, kurikulum, dan sumber kelimuan

1)     
Guru

Komitmen
seorang guru sangat menentukan kualitas dan mutu pendidikan. Maka dari itu
diperlukan training secara kontinu bagi para guru agar mereka dapat mengajar
secara efektif dan dapat mentransfer ilmu yang baik pada peserta didik.
Sehingga guru bisa mencipkatakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Dan akan terlahir karakter siswa dengan nilai-nilai akademik utama yaitu sikap
ilmiah dan kreatif.

2)     
Kurikulum

Kurikulum
bukanlah sekedar berisi kegiatan dan aktivitas siswa saja. Akan tetapi,
kurikulum juga harus memuat secara jelas mengenai cara pembelajaran, dan cara
penilaian. Cara pembelajaran yang dilakukan haruslah membuat siswa memahami
dengan benar mengenai hal-hal mendasar. Pemahaman tersebut harus muncul dari
pengalaman pembelajaran sebelumnya dan dari kreatifitas siswa dalam membangun
pengetahuannya.

3)     
Sumber keilmuan

Sumber
kelimuan ini berupa prasarana dalam segala kegiatan pendidikan seperti buku,
tempat belajar, alat peraga maupun teknologi. Hal itu semua diperlukan untuk
mendukung proses belajar mengajar dan juga menciptakan suasana akademik yang
tidak membosankan bagi peserta didik. Semua sumber keilmuan tersebut haruslah
dalam keadaan baik dan bisa digunakan secara optimal agar proses pembelajaran
tidak terhambat.

Kualitas Pendidikan di Indonesia

Laporan
UNESCO tahun 2014 dalam Education For All Global Monitoring Report (EFA-GMR),
Indeks Pembangunan Nasional atau The Education For Development Index (EDI),
Indonesia berada pada peringkat 57 dari 115 negara. Di tahun 2015 dalam Survei
Program For Internasional Student Assessment (PISA), Indonesia berada di posisi
ke-69 dari 76 peserta survei PISA. 
Sementara pada tahun 2016 dilansir dari The Guardian, Indonesia
menempati peringkat ke-57 dari 65 negara. Survei ini diterbitkan oleh
Organisation for Education Co-operation and Development. Dan pada tahun 2017
EDI Indonesia di wilayah ASEAN berada di urutan ke-5 dibawah Malaysia dan
Thailand.

Dari
data-data tersebut terlihat bahwa Indonesia masih jauh tertinggal dari
negara-negara lainnya. Jika fenomena ini dibiarkan maka akan seperti apa
pendidikan Indonesia di masa mendatang. Dengan demikian, kualitas pendidikan di
Indonesia perlu perhatian khusus. Hal ini terlihat dari banyaknya indikator
kendala yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Sehingga perlu dikajilebih
mendalam agar di masa yang akan dating bangsa Indonesia dapat meningkatkan
kualitas pendidikan dengan baik dan dapat bersaing sehat di lingkup
Internasional.

Indikator Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan

Setelah banyak
dilakukan survei menegenai tujua pendidikan banyak peserta didik maupun
pendidik tidak mengetahui dengan jelas “goal” apa yang akan dicapai dari proses
pembelajaran. Dikatakan bahwa perubahan-perubahan kurikulum yang sering
menimbulkan banyak kebingungan, pendidik malah disibukkan dengan penanaman
konsep kurikulum baru daripada  memberi
proses pembelajaran. Ini menimbulkan efetifitas pendidikan yang sangat tidak
efisien. Ini juga merupakan indikator dari beberapa penyebab rendahnya suatu
kualitas pendidikan.

 

Penyebab
rendahnya kualitas pendidikan di antaranya:

1.     
Standarisasi Pendidikan

Kompetensi-
kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang dalam lembaga pendidikan haruslah
memenuhi standar. Dewasa ini banyak peserta didik yang hanya memikirkan
bagaimana untuk mencapai standar pendidikan saja,bukan bagaimana agar
pendidikan bisa digunakan di kehidapan sehari-hari. Tidak peduli bagaimana cara
mendapatkan hasil atau nilai yang diperoleh, yang terpenting mencari aman
memenuhi nilai diatas standar saja. Sikap tersebut sangat disayangkan,
pendidikan kehilangan makna seseungguhnya karena terlalu menuntun standar
kompetensi. Hal ini jelas menjadi salah satu indikator penyebab rendahnya mutu
pendidikan.

2.     
Kualitas Sarana dan Prasarana yang Buruk

Banyak
sekali kasus gedung sekolah rusak sehingga proses pembelajaran terhambat. Ini
juga merupakan penyebab utama rendanya kualitas pendidikan. Banyak ditemukan
sekolah dan perguruan tinggi yang gedungnya rusak, buku perpustakaan tidak
lengkap, laboratorium tidak sesuia standar, pemakaian teknologi informasi tidak
memadai dan sebagainya. Dan bahkan ada sekolah yang tidak memiliki gedung
sendiri, tidak memiliki laboratorium dan perpustakaan.

3.     
Rendahnya Kualitas Guru

Saat
ini kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai sebagaimana
termuat dalam pasal 39 UU No. 20 tahun 2003 yaitu merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan,
melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

4.     
Rendahnya Kesejahteraan Guru

Dalam
pasal 10 UU tentang Guru dan Dosen, yaitu memberikan jaminan kelayakan hidup.
Di dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa guru dan dosen akan mendapatkan
penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan
yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta
penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot
atau pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

5.     
Rendahnya Prestasi Ssiswa

Menurut
Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2015 (2016), siswa Indonesia
hanya berada di ranking ke-45 dari 48 negara peserta dalam hal prestasi IPA dan
ranking ke-45 dari 50 negara dalamhal prestasi Matematika. Dari data tersebut
prestasi siswa Indonesia masih jauh dibawah Singapura sebagai negara terdekat.

6.     
Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan

Kesempatan
memperolah pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Angka
Partisipasi Murni (APM) untuk usia SD pada tahun 2016/2017 mencapai 93,7%(27,6
juta siswa). Sedangkan APM di SLTP hanya 76,3% (13,4 juta siswa). Bahkan APM
untuk SMA dan sederajat hamya 61,2% (13,3 juta siswa). Sementara itu layanan
pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Olehkarena itu diperlukan
kebijakanstrategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah
ketidakmerataan tersebut.

7.     
Biaya Pendidikan Mahal

Pendidkan
berkualitas itu mahal. Banyak sekali orang-orang mengatakan kalimat tersebut
menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengenyam bangku
pendidikan yang berkualitas. Sehigga banyak masyarakat miskin yang tidak
memiliki pilihan selain tidak sekolah. Memang seyogyanya pendidikan berkualitas
tidak mungkin murah, karena memang banyak yang diperlukan seperti buku dan
perlengkapan pendidikan lainnya. Namun dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2
disebutkan bahwa: (1) setiap waga negara berhak mendapatkan pendidikan. (2)
setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan wajib mebiayainya.
Dalam pasal tersebut jelas pemerintahlah yang berkewajiban menjamin pendidikan
setiap warga negaranya. Keterbasan dana tidak dapat dijadikan alasan Pemerintah
untuk buta dan tuli akan hal ini.

 

Solusi dari Berbagai Permasalahan Kualitas
Pendidikan di Indonesia

Pada dasarnya memang tidaklah mudah
untuk menigkatkan kualitas suatu pendidikian, karena ini sangat melibatkan
banyak pihak. Maka dari itu diperlukan koordinasi dengan berbagai elemen agar
kualitas pendidikan di Indonesia khususnya bisa lebih baik lagi.

Maka, salusi untuk setiap permasalahan
yang ada, khususnya di bidang finansial, sepeti mahalnya biaya pendidikan,
rendahnya kesejahteraan guru, dan kualiatas sarana fisik yang buruk, menuntut
agar pemerintah ikut andil membantu dalam bidang finansial. Sistem ekonomi di
Indonesia harus menggaris bawahi pemerintahlah yang harus bertanggung jawab
penuh dalam segala pembiayaan pendidikan negara.

Sementara untuk permasalahan seperti
rendahnya kualitas guru bisa diatasi dengan selain diberi solusi peningkatan
kesejahteraan juga diberi kesempatan bagi guru untuk melanjutkan studi yang
lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas
guru. Dan rendahnya prestasi siswa bisa diberikan solusi dengan meningkatkan
kualitas dan kuantitas materi pelajaran, memberikan penghargaan atas setiap
pencapaian peserta didik, memfasilitasi perlombaan dan olimpiade, meningkatkan
alat-alat peraga dan sarana prasarana pendidikan, dan sebagainya.

Ini semua tak terlepas dari sebuah
sistem pendidikan. Dengan begitu pemerintah harus bisa membuat sistem
pendidikan yang mengatur setiap elemennya agar tetap sejahtera dan mampu
mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Setelah dibuat sistem, Indonesia
harus bisa konsisten menjalankan setiap hal-hal baik dalam sistem dan
mengevaluasi yang belum maksimal.

 

 

Penutup

Kesimpulan

Pendidikan
yang berkualitas memang masih sulit untuk direalisasikan di Indonesia jika
dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal- hal yang
menjadi penyebabnya yaitu efektifitas dan efisiensi pendidikan yang masih
kurang dioptimlkan. Masalah lainnya adalah:

1.      Standarisasi
Pendidikan,

2.      Kualitas
Sarana dan Prasarana yang Buruk

3.      Rendahnya
Kualitas Guru

4.      Rendanya
Kesejahteraan Guru

5.      Rendahnya
Prestasi Siswa

6.      Kurangnya
Pemerataan Kesempatan Pendidikan

7.      Biaya
Pendidikan Mahal

Solusi
dari berbagai permasalahan yang ada antara lain dengan membuat sistem
pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas bahan ajar, guru, peserta didik dan
prestasi siswa.

Saran

Di abad ke-21
kita telah memasuki masa milenial dimana perkembangan teknologi dan lain hal.
Menuntut agar Indonesia mampu bersaing sehat dengan negara-negara lainnya di
berbagai macam bidang. Cara kita agar berkompeten bersaing dengan negara lain
adalah dengan meningkatkan kualitas dari pendidikan. Karena dengan meningkatkan
dan memperbaiki kualitas pendidikan akan tercipta Sumber Daya Manusia yang
semakin baik mutunya dan akan mebawa bangsa Indonesia bisa bersaing secara
global.