BENTUK perunggu atau “gangsa”. Gangsa berasal dari kata

BENTUK KOMPOSISI MUSIK
GAMELAN
DAN REFLEKSI TEOLOGIS LAGU KU SUKA MENGABARKAN (NP : 199)

Oleh :

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Alfa Kristanto, S.MG dan Denny
Dwiatmadja Kristianto, M.Th

 

ABSTRAK

Buku
Nyanyian Pujian (NP) adalah buku pujian yang digunakan dalam liturgi ibadah di
Gereja Baptis Indonesia. Diantaranya yaitu digunakan oleh Gereja Baptis
Indonesia (GBI) Ngembak Semarang. Penelitian ini memilih tempat di Gereja
Baptis Indonesia (GBI) Ngembak Semarang. Pada 24 September 2017 di GBI Ngembak
diantaranya menggunakan dua lagu dari buku Nyanyian Pujian (NP) dengan diiringi
gamelan Jawa dalam liturgi ibadahnya. Gamelan Jawa yang digunakan yaitu laras
pelog dengan jumlah penabuh 1 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Dua lagu
dari buku Nyanyian Pujian akan dianalisa bentuk musiknya yaitu mengenai ritme,
melodi, harmoni, struktur bentuk analisa musik, syair, tempo, dinamika,
ekspresi, instrumen dan aransemen. Refleksi teologis menjadi sumbangsih penting
dalam pemaknaan lagu yang dinyanyikan. Menggali pesan-pesan teologis yang
terkandung dalam setiap syair lagu yang dinyanyikan dapat mempengaruhi
pertumbuhan rohani seseorang.   

Kata
kunci : Bentuk Komposisi Musik Lagu Ku Suka Mengabarkan dan
Refleksi Teologis.

 

 

 

Pendahuluan

Seni tradisional merupakan kebudayaan yang patut dan
penting untuk mendapatkan perhatian karena kebudayaan merupakan identitas dari
suatu bangsa. Salah satu dari banyak contoh kesenian tradisional
di Indonesia adalah gamelan Jawa. Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen
sebagai pernyataan musikal yang sering disebut dengan istilah karawitan.
Karawitan (berasal dari bahasa Jawa: rawit)
yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit
juga berarti halus, cantik, berliku-liku, dan enak. Kata Jawa karawitan
khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, yang bersistem nada
pentatonis (dalam laras slendro dan pelog). Pengertian secara umum, gamelan
ialah alat musik tradisional Jawa, Bali, dan Sunda yang pada dasarnya
menggunakan laras slendro dan pelog. Laras ialah susunan nada yang di dalam
satu oktaf intervalnya sudah tertentu. Di dalam karawitan ada dua laras, yaitu
: laras slendro dan laras pelog. (Soedarsono, 1998:19). Seni sebagai bagian
dari kebudayaan, tidak terlepas dari pengaruh perubahan sosial. Perubahan seni
banyak dipengaruhi pula oleh faktor non-estetis, politik, religi, dan sosial.

Menurut
Suwaji Bastomi (1992,113) Gamelan adalah permainan musik jawa yang
bagian-bagiannya berupa alat perkusi yang dibuat dari perunggu atau “gangsa”. Gangsa berasal dari kata Gasa artinya perbandingan antara timah :
tembaga adalah 3 (tiga) : 10 (sedasa). Namun ada pula gamelan yang dibuat dari
besi. Pemainnya disebut “pradangga”,
penyanyinya disebut “waranggana”. Waranggana berasal dari kata wara artinya penyanyi, anggana artinya tunggal. Waranggana berarti penyanyi
tunggal.  Soeroso (1993:12-14)
mengungkapkan bahwa seperangkat Gamelan Ageng laras slendro dan laras pelog
terdiri atas beberapa macam instrumen yang setiap jenis satuannya disebut ricikan. Ditinjau dari bentuk, bahan,
dan cara memainkannya seperangkat Gamelan Ageng dapat digolongkan menjadi jenis
ricikan : bentuk tebokan, bentuk
bilah, bentuk pencon, bentuk kawatan dan bentuk pipa. Gamelan Jawa terdiri dari
instrumen berikut : kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking,
kenong dan kethuk, slenthem, gender, gong, gambang, rebab, siter, dan suling.

Kegiatan seni
melibatkan masyarakat karena hasilnya bermanfaat
bagi seluruh masyarakat. Kesenian merupakan salah satu media komunikasi antara manusia dengan
manusia, antara manusia dengan alam, antara
manusia dengan Sang Pencipta, Yudoseputro ( dalam Ejawati, 1998: 28). Menurut Purwodarminto (1987) perbedaan
antara fungsi dan peranan adalah, bahwa fungsi berkaitan dengan nilai guna, sedangkan
di dalam peranan berkaitan kedudukan. Apabila dari fungsinya setiap bentuk
kesenian akan berbeda-beda. Perbedaan itu berhubungan dengan sejarah timbulnya
kesenian itu sendiri. Dengan mengetahui kesenian maka akan diketahui pula
fungsinya. Kesenian tidak akan ada jika tidak berfungsi bagi kehidupan
masyarakat. Keberadaan kesenian senantiasa berkaitan dengan fungsinya. Berbicara tentang fungsi, Peursen
(1981: 85), menyatakan bahwa fungsi selalu
menunjukan terhadap sesuatu yang tidak dapat berdiri sendiri tetapi apabila
dihubungkan dengan sesuatu yang lain akan mempunyai arti atau maksud yang lain
pula. Kesenian yang ada di tengah-tengah masyarakat di Indonesia ini
dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat. Hal ini dapat
menimbulkan perbedaan antara bentuk, isi, fungsi pada tiap-tiap daerah. Juga
dapat disebabkan oleh adat istiadat, pandangan hidup serta latar belakang
kehidupan masyarakat. Selain itu perbedaan kesenian berhubungan erat dengan
timbulnya kesenian itu sendiri. Di dalam konteks masyarakat, jenis-jenis
kesenian tertentu akan memiliki kelompok pendukung tertentu pula.

Kesenian
mempunyai makna ataupun arti bagi masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu
bentuk kesenian mempunyai fungsi yang berbeda satu sama lainnya. Triyanto
(1993: 170), kesenian atau seni mempunyai fungsi budaya. Sebagai fungsi budaya
seni merupakan sistem-sistem simbol yang berfungsi menata, mengatur, dan
mengendalikan tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan ekspresi seni, baik
dalam tahapan kreasi (penciptaan suatu karya), maupun dalam bahan ekspresi
(penikmat karya).

Soedarsono
(1998: 32) mengemukakan, bahwa sebagian besar di Indonesia dalam
menyelenggarakan upacara adat wilayahnya menghendaki sajian musik. Misalnya
pada upacara kelahiran, pesta panen, perkawinan, kelahiran, dan lain sebagainya
(musik sebagai fungsi sosial). Sedangkan untuk puji-pujian khususnya dalam
upacara keagamaan kristen dan pengajian dalam islam ( musik sebagai fungsi
religius). Baik adat maupun keagamaan mempunyai sifat sakral atau suci, bahkan
ada juga yang mengandung kekuatan magis. Ini merupakan satu bukti bahwa musik
dapat digunakan sebagai hiburan, dan untuk upacara musik sangat diperlukan atau
dibutuhkan dalam suatu bentuk upacara resmi maupun acara tidak resmi.

Penulis merasa prihatin mengingat
kesenian tradisional semacam
gamelan ini diabaikan oleh Gereja pada era modern.
Perkembangan musik di Gereja lebih banyak 
memanfaatkan band dibandingkan musik tradisional dalam mengiringi
liturgi ibadah. Gereja-gereja yang memanfaatkan lagu himn dalam liturgi ibadah
Minggu cenderung menggunakan keyboard
yang memanfaatkan model-model iringan di dalamnya. Fokus pada Gereja Baptis
Indonesia di sekitar Semarang dijumpai adanya gamelan Jawa untuk mengisi pujian
dalam liturgi ibadah. Ada sesuatu yang menarik perhatian peneliti ketika
melihat gamelan Jawa digunakan untuk mengiringi liturgi ibadah di Gereja Baptis
Indonesia (GBI) Ngembak.

Gereja
Baptis Indonesia (GBI) adalah Gereja
yang
menerapkan sistem pemerintahan konggregasional. Pelaksanaan ibadah di hari
Minggu sebanyak dua kali ibadah yaitu pada pagi dan sore. Untuk pujian ibadah
di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Ngembak menggunakan buku kidung dan lagu-lagu praise worship sesuai perkembangan
sekarang. Rutinitas ibadah hari Minggu di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Ngembak
menggunakan band sebagai pengiring lagu pujian dalam ibadah. Tetapi pada minggu
terakhir dalam setiap bulan di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Ngembak
menggunakan gamelan Jawa untuk mengiringi ibadah di hari Minggu pagi.

Upaya GBI Ngembak yang memberikan tempat bagi gamelan dalam liturgi memberi
harapan untuk lebih lestarinya budaya musik tradisional Jawa oleh Gereja. Selain
itu, pemanfaatan gamelan ini adalah upaya untuk melunturkan beban sejarah yang
selama ini melekat pada Gereja. Beban sejarah itu berupa stereotipe bahwa
kekristenan merupakan agama penjajah. Patutlah diakui bahwa pada mulanya
kekristenan disebarkan di wilayah “nusantara” oleh Portugis dan Belanda.
Kedatangan mereka semula adalah untuk berdagang. Namun berkembang menjadi
monopoli dan kemudian kolonialisasi. Sebuah perkembangan yang tidak dapat tidak
harus terjadi sesuai dengan tahap perkembangan kapitalisme di Eropa yang
membutuhkan bahan baku dan perluasan pasar bagi produk-produknya.

Para misionaris dalam menyebarkan kabar baik membawa serta superioritas
budaya. Terlebih lagi di era penginjilan yang masif yang didorong oleh
kelahiran pietisme di Jerman dan Belanda. Meski dalam pekabaran Injil lebih
maju dibandingkan para misionaris pendahulunya, namun tetap saja tidak dapat
lepas dari superioritas budaya yang melekat dalam diri mereka. Malah dapat
dikatakan semakin menguat dalam bentuk larangan bagi orang-orang bumiputera
yang menerima iman Kristen untuk menonton wayang, terlibat dalam praktek
tradisi budaya, termasuk dilarang untuk bermain gamelan. Alhasil, menjadi
anggota Gereja sama halnya dengan menjadi “Belanda”. Para petobat ini dicerabut
begitu saja dari akar budaya dimana mereka dilahirkan.

Jika di masa kini GBI Ngembak memanfaatkan musik gamelan sebagai sebagai
salah satu alat pengiring liturgi, maka upaya ini patutlah dihargai sebagai bentuk
pelestarian budaya adiluhung leluhur dan inkulturasi kekristenan dalam budaya
Jawa melalui gamelan. Inkulturasi ini sekaligus 
sebagai upaya konkret untuk mengikis stereotipe kekristenan sebagai
agama penjajah. Upaya ini kian penting mengingat makin menipisnya kesadaran
untuk menghargai budaya lokal di tengah gaya hidup modern—yang lagi-lagi
konotasinya adalah barat—yang men-stereotipe-kan gamelan sebagai alat musik
yang ketinggalan zaman.

 

Bentuk
Komposisi Musik Gamelan Untuk Lagu
Ku Suka Mengabarkan (NP.199)

Jamalus (1988: 1)
mengungkapkan jika pertunjukan musik mencakup aspek yang bersifat tekstual,
yaitu berupa hal-hal yang terdapat pada pertunjukan musik saat disajikan secara
utuh dan dinikmati langsung oleh masyarakat. Hal tersebut terdiri atas bentuk
komposisi dan penyajian. Bentuk komposisi pertunjukan musik meliputi: (a)
ritme, (b) melodi, (c) harmoni, (d) struktur bentuk analisa musik, (e) syair,
(f) tempo, dinamika, ekspresi; (g) instrumen, dan (h) aransemen.

Sukohardi (2009:1)
mengatakan nada adalah bunyi yang teratur, artinya mempunyai bilangan getar
(frekuensi) yang tertentu. Tinggi rendahnya bunyi (suara) bergantung pada besar
kecilnya frekuensi tersebut. Interval, menurut Banoe (2003:48) interval adalah
sela atau celah antara dua objek. Di dalam pengetahuan musik, interval adalah
jarak antara dua nada. Untuk dapat menentukan panjang pendeknya nada atau bunyi
dalam lagu itu bisa ditulis dengan simbol yang disebut notasi (Suharto 1998 :
8). Edmund (2009:13) menuliskan bahwa melodi adalah suatu urutan nada yang utuh
dan membawa makna. Adapun syaratnya adalah:berciri khas, berbentuk jelas,
memuat suatu ungkapan dan dapat dinyanyikan.

Rochaeni (1989 : 34)
mengartikan harmoni sebagai gabungan dari berbagai nada yang dibunyikan
serempak atau arpeggio (berurutan)
atau tinggi rendah nada tersebut tidak sama tetapi selaras terdengar dan
merupakan kesatuan yang bulat. Hartayo (1994:57) mengatakan harmoni itu sendiri
pada hakekatnya berisi akorakor serta rangkaiannya, yang membentuk pola-pola
tersendiri, yang biasanya disebut kadens, sedangkan akor adalah paduan tiga
buah nada atau lebih yang merupakan suatu kesatuan tersendiri dan tak dapat
dipisahkan.

Musik
mirip dengan bahasa, terjadinya dalam urutan waktu, di dalam potongan-potongan
tersebut biasanya tersusun sedemikian rupa sehingga nampak teratur dan
sistematis, tetapi ada juga potongan lagu yang tidak teratur, dan lagu yang
demikian sangat jarang didapat. Bentuk dan struktur lagu adalah susunan atau
hubungan antar unsur-unsur musik dalam lagu yang bermakna (Jamalus 1988 : 35). Syair yang digunakan baik tradisional, musik daerah, maupun modern
membentuk sebuah kalimat lagu, frase-frase atau bait-bait yang mengandung makna
tertentu. Cepat lambatnya karya musik yang dimainkan dapat dikaji secara
keseluruhan dari awal sampai akhir. Dinamika dipastikan dapat terjadi pada
setiap bagian lagu tergantung keinginan pencipta atau pemainnya. Ekspresi tidak
hanya pada para pemain musiknya, tetapi juga pada bunyi-bunyian dari instrumen
musik yang dimainkan.

Instrumen
yang digunakan pada kelompok seni pertunjukan musik tertentu perlu dikaji
penggunaannya, apakah memang dimainkan ataukah digunakan sebagai properti atau
pendukung. Suatu bentuk
seni pertunjukan musik yang sudah dikenal masyarakat kadangkala sudah dalam
bentuk aslinya, namun ada juga yang masih asli dengan seni kerakyatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Analisa Lagu Ku Suka Mengabarkan  (NP. 199)

 

 

 

 

NP 199: KU SUKA MENGABARKAN

Lagu: William G. Fischer, 1869Syair: Katherine Hankey, 1866

1=G, 4/4

1

Ku suka mengabarkan perkara yang baka,
Hal Yesus dan kasihNya yang nyata dan mulia;
Ku suka mengabarkan berita yang benar
Tentang hal Yesus Kristus yang amat kugemar.

Reff:

Ku suka mengabarkan, Ya hingga kekekalan
Ku suka memasyhurkan hal kasih Yesusku.

2

Ku suka mengabarkan mengulang tak henti
Berita yang terindah, abadi dan murni;
Ku suka mengabarkan; Banyaklah b’lum dengar
Berita kes’lamatan, sabdaNya yang benar.

3

Ku suka mengabarkan InjilNya yang benar
Kepada tiap jiwa yang ingin mendengar;
Ku suka mengabarkan nyanyian yang baru
Tentang cerita lama yang s’lalu kurindu.

 

Lagu
Ku Suka Mengabarkan merupakan gubahan oleh Gereja Baptis Indonesia dengan
mengacu pada keasliannya. Komposer lagu ini yaitu William G. Fischer pada tahun
1869 dengan judulnya Hankey. Syairnya
I Love to Tell the Story oleh
Katherine Hankey tahun 1866 (Mazmur 66 : 16 – 17).

Analisis
untuk lagu Ku Suka Mengabarkan, yaitu menggunakan tanda birama 4/4 memanfaatkan
ritme dengan nilai not 1, ½, ¼, 1/8. Melodinya
menggunakan skala nada mayor dengan ciri skala interval 1, 1, ½, 1, 1, 1, ½.
Jenis melodinya yaitu melangkah dan melompat. Lagu Ku Suka Mengabarkan
dibawakan dalam harmoni satu suara meskipun pada buku Nyanyian Pujian
disediakan harmoni Sopran, Alto, Tenor, Bas.

Struktur
bentuk musik dalam lagu Ku Suka Mengabarkan memiliki dua bagian, yaitu bagian A
dan bagian A1. Bagian A terdapat pada birama 1 sampai birama 8.
Bagian A1 terdapat pada birama 9 sampai birama 16. Pada bagian A
terdapat kalimat tanya pada birama 1 sampai birama 8. Pada bagian A1
terdapat kalimat tanya dan kalimat jawab, yaitu kalimat tanya pada birama 9
sampai birama 12 dan kalimat jawab pada birama 13 sampai birama 16.

Pada
lagu Ku Suka Mengabarkan terdiri atas syair melodi lagu dengan sajak syairnya
yaitu a (birama 1- 4), a (birama 5 – 8), b (birama 9 – 12), b (birama 13 – 16).
Syair lagu Ku Suka Mengabarkan merupakan substansi dari Firman Tuhan yang
terdapat dalam Mazmur 66 : 16 – 17. Tempo yang digunakan pada lagu Jangan Aku
Dilalui yaitu tempo cepat sekitar 75 – 80 M.M. Lagu Ku Suka Mengabarkan
mempunyai tempo yang stabil dalam membawakannya yaitu dari intro sampai akhir
lagu tidak ada perubahan tempo yang signifikan. Dinamika lagu menggunakan
dinamika agak kuat (mezzo forte) dan
kuat (mezzo forte). Ekspresi yang
dibawakan dalam lagu Ku Suka Mengabarkan yaitu dengan riang dan penuh semangat
.

 Instrumen lagu Ku Suka Mengabarkan menggunakan
gamelan Jawa dengan laras pelog. Lagu Ku Suka Mengabarkan dalam membawakannya
menggunakan aransemen khusus untuk iringan gamelan Jawa laras pelog. Berikut
aransemen yang sudah di buat untuk lagu Ku Suka Mengabarkan.

Instrumen
yang digunakan diantaranya kendang, gong, kenong dan kethuk, saron, bonang
barung, bonang penerus, dan peking.

 

Refleksi
Teologis Lagu Ku Suka Mengabarkan Dalam Iringan Gamelan

Katherine Hankey penulis syair pertama lagu ini adalah
seorang yang mempunyai kerinduan mendalam untuk mengabarkan kabar baik, Injil
Yesus Kristus, kepada setiap orang tanpa memandang status sosialnya. Meski ia
tidak mempunyai latar belakang sebagai seorang penulis lagu, namun kerinduan
terdalam dalam hidupnya itu mampu menerobos kelemahan dirinya. Bahkan bait-bait
lagu yang awalnya berupa puisi, dia tulis dalam kondisi sedang sakit di usianya
yang ke-30 tahun. Kini semangat dan kerinduan Katherine telah
terpatri abadi dalam lagu Ku Suka Mengabarkan. Lagu yang
sangat dikenal oleh jemaat dan mampu menggugah semangat untuk mengabarkan kasih
Yesus Kristus di awal kelahiran lagu ini di akhir abad ke-19 hingga masa kini
dan di masa depan.

Sebagaimana lagu pujian pada umumnya, syair lagu dapat
dimaknai oleh setiap pelantunnya sebagai bentuk ungkapan harapan atau di sisi
lain sebagai bentuk proklamasi. Bentuk-bentuk ungkapan itu dapat terjadi
mengingat kekuatan syair yang mampu menjadi sarana komunikasi intrapersonal
yang terjadi antara pelantun dengan dirinya sendiri.  Syair lagu Ku Suka Mengabarkan gubahan GGBI
dapat menggugah kesadaran dari setiap jemaat pelantunnya mengenai perintah
adiluhung dari Yesus Kristus yang dikenal sebagai amanat agung. Yaitu amanat
untuk mengabarkan Injil dan menjadikan segala bangsa menjadi murid Tuhan.
Bentuk ungkapan seperti ini termasuk dalam kategori harapan karena adanya jarak pemisah antara syair lagu yang dilantunkan dengan
kenyataan hidup pelantunnya. Dalam hal ini syair lagu Ku Suka Mengabarkan
mempunyai daya usik dan sekaligus daya harapan untuk  memperpendek jarak antara syair, kondisi
kesadaran jiwa dan realitas hidup sehari-hari dari jemaat pelantunnya. Di sisi
yang lain, syair lagu Ku Suka Mengabarkan menjadi peneguhan bagi jemaat yang secara mental dan praktik hidupnya sehari-hari telah relatif
bersesuaian dengan syair lagu yang dilantunkannya. Penulis memberi nama pada
bentuk ungkapan ini sebagai proklamasi yang terdiri dari pernyataan dan
perayaan. Meskipun berbeda, namun kedua bentuk ungkapan di atas mempunyai kesamaan
dalam menggugah semangat jemaat untuk melaksanakan pekabaran Injil dengan penuh
sukacita.

Gugahan semangat untuk mengabarkan berita kasih Yesus
Kristus ditopang oleh syair-syair yang meneguhkan kepercayaan dan ajaran GGBI—dan
ajaran orthodoks pada umumnya—perihal Injil yang benar. Tersurat
jelas dalam bait-bait semisal: “Ku
suka mengabarkan berita yang benar”; “Berita kes’lamatan, sabda-Nya
yang benar”; Ku suka mengabarkan Injil-Nya yang benar”.
Apa yang dimaksud dengan Injil yang benar iut? Yesus Kristus sebagai
keselamatan kekal. Meski
pokok iman ini tidak secara
eksplisit tercantum dalam syair-syair lagu Ku Suka Mengabarkan gubahan GGBI, namun
jelas terekspresi dalam bait-bait semisal: ” Ku suka mengabarkan perkara
yang baka”; “Berita yang terindah abadi dan murni”; “Berita
kes’lamatan, sabda-Nya yang benar”; dan satu bait  dalam reffreinnya “Ku suka mengabarkan, ya
hingga kekekalan”. Dengan demikian, melalui lagu ini kepercayaan dan
ajaran Gereja diberitakan dan dihayati kembali dalam diri pelantunnya dan juga
dalam komunitas orang percaya yang melantunkan dan sekaligus mendengarkan
nyanyian itu secara bersama-sama. Dan bersamaan dengan
itu melawan segala ajaran yang tidak ortodoks, yang dapat disebut sebagai injil
yang lain atau injil yang tidak benar.

Gugahan
semangat untuk memberitakan Injil kian lengkap dengan iringan gamelan yang
memakai laras pelog. Laras pelog mengedepankan keagungan atau kemegahan iringan
tanpa meninggalkan keriangan yang menjadi ekspresi  awal dari lagu Ku Suka Mengabakan ini. Maka
dengan laras pelog, lagu Ku Suka Mengabarkan dilantunkan dengan keceriaan dan
kegembiraan sebagaimana syair yang menunjukkan kesukaan dalam memberitakan
Injil Yesus Kristus. Bersamaan dengan itu, lagu ini mendapatkan sisi
keagungannya karena berita Injil yang diberitakan dengan sukacita itu adalah
berita yang agung nan mulia. Bercerita tentang kasih Yesus Kristus yang
menyelamatkan dan mengajak setiap orang yang mau mendengar untuk turut
menikmati anugrah keselamatan itu.

 

SIMPULAN

Lagu Ku Suka
Mengabarkan (NP.199) memiliki kesesuaian jika dibedah menggunakan teori Jamalus
mengenai bentuk komposisi musik. Jamalus (1988: 1) mengungkapkan jika
pertunjukan musik mencakup aspek yang bersifat tekstual, yaitu berupa hal-hal
yang terdapat pada pertunjukan musik saat disajikan secara utuh dan dinikmati
langsung oleh masyarakat. Hal tersebut terdiri atas bentuk komposisi dan
penyajian. Bentuk komposisi pertunjukan musik meliputi: (a) ritme, (b) melodi,
(c) harmoni, (d) struktur bentuk analisa musik, (e) syair, (f) tempo, dinamika,
ekspresi; (g) instrumen, dan (h) aransemen. Hasil analisa lagu Ku Suka
Mengabarkan (NP.199) yaitu menggunakan ritme dengan nilai not 1, ½, ¼, 1/8.
Melodinya menggunakan skala nada mayor dengan alur melodinya melangkah dan
melompat. Menggunakan harmoni satu suara dan struktur lagunya yaitu terdapat
dua bagian yaitu bagian A dan A1. Syairnya bersajak a, a, b, b
dengan tempo cepat sekitar 75 – 80 M.M. Dinamika lagu menggunakan dinamika agak
kuat (mezzo forte) dan kuat (mezzo forte). Ekspresi yang dibawakan
dalam lagu Ku Suka Mengabarkan yaitu dengan riang dan penuh semangat. Dan
dengan instrumen gamelan Jawa laras pelog, lagu ini dibawakan dengan agung
tanpa meninggalkan sisi keceriaannya.

 

 

 

SUMBER

 

Banoe,
Pono. 2003. Pengantar Pengetahuan Harmoni. Yogyakarta:Kanisius.

Bastomi, Suwaji. 1992. Seni dan
Budaya Jawa. Semarang : IKIP Semarang Press

Ejawati,
Ninik. 1998. Bentuk Penyajian dan Fungsi Kesenian Tradisional Odrot di Desa Sumberejo Kecamatan Balong Kabupaten
Ponorogo.

Hartayo,
Jimmy. 1994. Musik Konvensional Dengan “Do Tetap”. Yogyakarta:Yayasan
Pustaka Nusatama.

Indrawan,
Bagus dkk. 2016. Bentuk Komposisi dan
Pesan Moral dalam Pertunjukan Musik KiaiKanjeng. UNNES : Chatarsis, Jurnal
Of Art Education.

Jamalus. 1988. Pengajaran Seni Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta : Depdikbud

Karl
– Edmund Prier, S. J. 2009. Ilmu Harmoni. Yogyakarta :PML.

Peursen
CA. Van. 1981. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta : Depdikbud.

Purwadarminto.
1987. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta : Balai Pustaka

Soedarsono,
R.M. 1998. Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Perkembangan Seni Pertunjukan di Indonesia (Makalah disajikan
dalam Simposium Internasional
Ilmu-ilmu Humaniora V di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Soeroso.
1993. Bagaimana Bermain Gamelan.
Jakarta : Balai Pustaka.

Suharto. 1998. Perkembangan Seni Kriya di Indonesia. Yogyakarta.

Sukohardi, Al. 2009. Teori Musik
Umum. Yogyakarta :Pusat Musik Liturgi.

Triyanto.
1993. Pendidikan Seni Sebagai Proses Enkulturisasi Nilai-nilai Budaya
dalam media FPBS IKIP Semarang No. 4 Tahun XVI Desember 1993